Berhenti menstruasi setelah menopause bukan berarti darah kotor tertahan di
dalam tubuh. Memahami fisiologi menopause membantu perempuan
membedakan perubahan yang normal dari perdarahan yang justru perlu diperiksa.
“Kalau sudah menopause, darah kotornya ke mana?” Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya bisa sangat berbeda tergantung kepada siapa seorang perempuan bertanya. Ada yang menjawab, “Sudah tidak keluar karena darahnya tertahan.” Ada pula yang mengatakan, “Nanti darah kotornya bisa naik ke kepala atau berkumpul di tubuh”. Kepercayaan semacam ini dapat terdengar meyakinkan karena menstruasi memang terjadi berulang kali selama bertahun-tahun. Setiap bulan ada darah yang keluar, lalu suatu hari menstruasi berhenti. Secara logika sehari-hari, seseorang mungkin bertanya : kalau sebelumnya keluar setiap bulan, sekarang ke mana perginya? Pertanyaan tersebut justru menjadi pintu masuk penting untuk memahami tubuh perempuan. Sebab, menopause bukanlah keadaan ketika rahim berhenti membuang darah kotor, lalu darah tersebut menumpuk di dalam tubuh. Menopause merupakan fase biologis ketika fungsi ovarium mengalami perubahan hingga siklus menstruasi akhirnya berhenti. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa menopause alami terjadi setelah 12 bulan berturut-turut tanpa menstruasi, tanpa penyebab patologis lain. Dengan memahami hal ini, perempuan tidak hanya terbebas dari satu mitos, tetapi juga dapat mengenali satu hal yang jauh lebih penting : perdarahan setelah menopause bukanlah “darah kotor” yang sedang keluar.
Mitos utama yang berkembang adalah:
“Menstruasi merupakan darah kotor yang harus dibuang. Kalau perempuan sudah menopause dan tidak menstruasi lagi, darah kotor akan tertahan atau menumpuk di dalam tubuh.”
Kepercayaan ini dapat muncul dalam percakapan keluarga dan komunitas, terutama ketika perempuan mulai memasuki usia 40–50 tahun dan mengalami perubahan pola menstruasi. Sebagian perempuan juga menghubungkan rasa tidak nyaman setelah menopause, misalnya tubuh terasa panas, mudah lelah sakit kepala, atau perubahan suasana hati dengan anggapan bahwa darah menstruasi yang biasanya keluar kini “berada di dalam tubuh”. Padahal, istilah “darah kotor” bukanlah istilah fisiologis untuk darah yang mengandung racun. Menstruasi memang memiliki dimensi sosial dan budaya. Penelitian menunjukkan bahwa menstruasi masih sering dikelilingi stigma, rasa malu, dan norma sosial yang memengaruhi bagaimana perempuan memahami serta membicarakan tubuhnya. Karena itu, mitos tersebut sebaiknya tidak dilihat semata-mata sebagai “kesalahan masyarakat”. Ia merupakan hasil dari cara pengetahuan tentang tubuh perempuan diwariskan, dibahas, dan dimaknai dari generasi ke generasi.
Status klaim : KELIRU
Menstruasi bukan mekanisme tubuh untuk membuang “darah kotor”, racun, atau zat berbahaya. Karena itu, ketika menstruasi berhenti akibat menopause, tidak ada darah menstruasi yang kemudian tertahan dan menumpuk di dalam tubuh. Untuk memahaminya, bayangkan rahim bukan sebagai penyimpan darah, melainkan organ yang lapisannya mengalami perubahan mengikuti sinyal hormonal. Pada masa reproduktif, lapisan dalam rahim yang disebut endometrium mengalami perubahan sepanjang siklus menstruasi. Jaringan ini dipersiapkan untuk kemungkinan terjadi tumbuhnya kehamilan. Bila kehamilan tidak terjadi, lapisan tertentu dari endometrium mengalami peluruhan dan kemudian dikeluarkan melalui vagina sebagai menstruasi. Proses tersebut merupakan bagian normal dari sistem reproduksi perempuan. Dengan demikian, darah menstruasi bukanlah “darah beracun”. Cairan menstruasi juga bukan hanya darah, di dalamnya juga terdapat jaringan endometrium yang mengalami peluruhan, lendir, serta berbagai komponen biologis lainnya. Penelitian mengenai fisiologi endometrium menunjukkan bahwa menstruasi merupakan proses yang melibatkan perubahan hormonal, peradangan terkontrol, peluruhan jaringan, penghentian perdarahan, kemudian perbaikan dan regenerasi endometrium. Jadi, istilah “darah kotor” lebih tepat dipahami sebagai istilah populer dalam masyarakat, bukan kategori medis.
Lalu apa yang terjadi saat menopause?
Menjelang menopause, perempuan memasuki masa transisi yang disebut perimenopause. Pada periode ini, fungsi ovarium berubah dan pola hormonal menjadi tidak teratur. Akibatnya, menstruasi datang lebih cepat atau lebih lambat, jumlah darah dapat berubah dan periode tanpa menstruasi dapat semakin panjang. Perubahan tersebut merupakan bagian dari proses menuju menopause. Kementerian Kesehatan RI juga menjelaskan bahwa masa menjelang menopause berkaitan dengan perubahan fungsi ovarium dan kadar hormon yang dapat memunculkan berbagai perubahan fisik maupun psikologis. Pada akhirnya, ketika fungsi ovarium mengalami penurunan yang cukup besar, ovulasi berhenti dan menstruasi pun berhenti. Bukan karena darahnya tersumbat atau darahnya pindah ke organ lain bahkan darahnya berubah menjadi racun. Tetapi karena siklus biologis yang sebelumnya menghasilkan menstruasi telah berhenti. WHO menyebutkan bahwa menopause terutama berkaitan dengan hilangnya fungsi folikel ovarium sehingga ovarium tidak lagi melepaskan sel telur untuk fertilisasi. Inilah perbedaan penting antara “darah tidak keluar karena tersumbat” dengan “menstruasi tidak terjadi lagi karena siklus reproduksi telah berubah”.
| Klaim yang beredar | Status Bukti | Klarifikasi Ilmiah | Sumber Utama |
| Menstruasi adalah darah kotor yang harus dikeluarkan tubuh | KELIRU | Menstruasi merupakan peluruhan endometrium sebagai bagian dari siklus reproduksi, bukan proses membuang racun | Jain et al., 2022 |
| Setelah menopause, darah menstruasi tertahan atau menumpuk di tubuh | KELIRU | Setelah menopause, siklus menstruasi berhenti akibat perubahan fungsi ovarium dan hormonal. Tidak ada darah menstruasi yang perlu “dibuang”. | WHO, 2024 |
| Perdarahan setelah menopause adalah darah kotor yang akhirnya keluar | KELIRU | Perdarahan setelah menopause perlu dievaluasi untuk mengetahui penyebabnya dan tidak boleh otomatis dianggap normal | ACOG, 2026 |
Menopause bukan rahim yang tersumbat. Menopause adalah berakhirnya siklus menstruasi akibat perubahan fungsi reproduksi ovarium. Dan satu fakta lain yang tidak kalah penting : Setelah menopause, setiap perdarahan dari vagina perlu diperhatikan dan dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan. MENGAPA MITOS TERSEBUT MASIH DIPERCAYA? Jika penjelasan ilmiahnya sudah tersedia, mengapa mitos tentang darah kotor masih dapat bertahan? Salah satu jawabannya adalah karena pengetahuan tentang tubuh perempuan tidak hanya dibentuk oleh buku kesehatan, tetapi juga oleh keluarga dan lingkungan sosial. Seorang anak perempuan mungkin pertama kali mengenal menstruasi bukan dari tenaga kesehatan, melainkan dari ibunya. Sang ibu pun mungkin memperoleh pengetahuan dari neneknya. Penjelasan yang terus diulang akhirnya terasa seperti kebenaran. Masalahnya, pengalaman pribadi tidak selalu dapat dijadikan hukum biologis. Seseorang mungkin merasa tubuhnya lebih nyaman setelah menstruasi, kemudian menyimpulkan bahwa menstruasi berarti “membuang sesuatu yang kotor”. Padahal, rasa nyaman tersebut tidak membuktikan bahwa tubuh sedang membuang racun. Selain itu, menstruasi masih dikelilingi stigma
dan tabu di berbagai masyarakat. Kajian global menunjukkan bahwa stigma menstruasi dapat memengaruhi pengalaman perempuan, cara mereka mengelola menstruasi, serta kemampuan membicarakan kesehatan menstruasi secara terbuka. Dalam konteks Indonesia, penelitian juga menunjukkan bahwa menstruasi masih dipandang sebagai sesuatu yang tabu dan pembicaraannya dapat dibatasi oleh norma sosial maupun keterbatasan edukasi. Ketika sebuah topik jarang dibicarakan secara terbuka, ruang untuk bertanya kepada tenaga kesehatan, menjadi lebih kecil. Sebaliknya, informasi dari keluarga, teman, atau media sosial lebih mudah diterima tanpa diperiksa kembali. Di sinilah literasi kesehatan menjadi penting.
DAMPAK MITOS TERHADAP KESEHATAN
Mungkin ada yang berpikir, “Bukankah ini hanya istilah? Apa bahayanya?” Bahayanya muncul ketika mitos tersebut mulai memengaruhi keputusan kesehatan. Perempuan yang percaya bahwa darah kotor akan menumpuk setelah menopause mungkin mencari cara untuk “mengeluarkannya”. Misalnya, mengonsumsi produk herbal tertentu, melakukan tindakan yang diklaim dapat “membersihkan rahim”, atau mengikuti anjuran kesehatan yang tidak memiliki dasar ilmiah. Masalah yang lebih serius terjadi apabila seorang perempuan mengalami perdarahan setelah menopause kemudian menganggapnya sebagai tanda bahwa tubuh sedang “membersihkan darah kotor”. Padahal, perdarahan pascamenopause bukan menstruasi yang datang kembali secara normal. Penyebabnya dapat beragam, termasuk perubahan atau penipisan jaringan vagina dan endometrium, polip, pengaruh obat atau terapi hormonal,
hiperplasia endometrium, hingga kanker endometrium. Penting untuk tidak menakut-nakuti perempuan. Tidak semua perdarahan pascamenopause berarti kanker. Namun, kondisi tersebut tidak boleh diabaikan. ACOG pada 2026 memperbarui panduan evaluasi perdarahan pascamenopause dan menekankan pendekatan evaluasi yang lebih komprehensif untuk membantu mengurangi kemungkinan terlewatnya kelainan endometrium. Artinya, satu miskonsepsi tentang “darah kotor” dapat berujung pada persoalan yang jauh lebih serius apabila menyebabkan seseorang terlambat mencari pertolongan.
APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN?
1. Periksa sumber informasi
Ketika mendengar klaim kesehatan tentang menopause, jangan langsung percaya hanya karena informasi tersebut disampaikan oleh orang yang lebih tua atau sudah berpengalaman. Cari informasi dari WHO, Kementerian Kesehatan, organisasi profesi, pedoman klinis, atau tenaga kesehatan yang kompeten.
2. Bedakan pengalaman dengan bukti
Pengalaman seorang ibu, saudara, tetangga, atau teman tetap berharga sebagai pengalaman manusia. Namun, pengalaman tersebut belum tentu menjelaskan mekanisme biologis dan tidak otomatis berlaku untuk semua perempuan.
3. Jangan mencari “pelancar darah” tanpa alasan medis
Tidak ada kebutuhan fisiologis untuk “mengeluarkan darah kotor” setelah menopause. Jamu atau herbal tertentu juga tidak otomatis aman hanya karena berasal dari bahan alami. Jika sedang mengonsumsi obat atau menjalani terapi tertentu, konsultasikan terlebih dahulu penggunaannya kepada tenaga kesehatan.
4. Perhatikan perdarahan setelah menopause
Jika seorang perempuan sudah tidak menstruasi selama 12 bulan atau lebih kemudian mengalami perdarahan dari vagina, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Jangan menunggu sampai perdarahannya banyak. Jangan pula menyimpulkan sendiri bahwa darah tersebut adalah “darah kotor”.
5. Jadikan menopause sebagai kesempatan meningkatkan literasi kesehatan
Menopause merupakan fase kehidupan yang membutuhkan perhatian terhadap kesehatan secara menyeluruh. Rekomendasi International Menopause Society 2026 menempatkan kesehatan perempuan paruh baya dalam perspektif yang luas, termasuk kesehatan tulang, kardiometabolik, gejala vasomotor, kesehatan urogenital, kanker, gaya hidup, dan berbagai aspek kesehatan lainnya. Perempuan tidak perlu takut menghadapi menopause, yang diperlukan adalah informasi yang benar dan akses terhadap pelayanan kesehatan yang tepat.
Pertanyaan “Darah kotor ke mana setelah menopause?” ternyata bukan sekadar pertanyaan tentang darah. Ia membuka percakapan yang lebih besar tentang bagaimana perempuan memahami tubuhnya sendiri. Menstruasi bukan proses membuang racun. Darah menstruasi bukan “darah kotor” yang harus dikeluarkan agar tubuh tetap sehat. Ketika menopause terjadi, darah menstruasi tidak berpindah, tidak menumpuk, dan tidak menjadi racun. Siklus menstruasinya memang telah berhenti sebagai konsekuensi perubahan fungsi reproduksi yang justru perlu diperhatikan adalah apabila setelah menopause muncul perdarahan. Jangan menyebutnya darah kotor, jangan pula langsung menganggapnya kanker. Cari tahu penyebabnya melalui pemeriksaan tenaga kesehatan. Bagi bidan dan tenaga kesehatan, meluruskan mitos bukan berarti memenangkan perdebatan dengan masyarakat. Tugasnya adalah membuka ruang dialog, menghargai pengalaman budaya, lalu menghadirkan penjelasan ilmiah dengan bahasa yang dapat dipahami. Sebab, perempuan tidak membutuhkan rasa takut terhadap tubuhnya sendiri. Yang perlu dikeluarkan bukan darah yang tidak pernah menumpuk, melainkan ketakutan dan miskonsepsi yang selama ini menghalangi perempuan memahami tubuhnya sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
American College of Obstetricians and Gynecologists. (2026). ACOG publishes updated guidance on evaluation of postmenopausal bleeding. ACOG International Menopause Society. (2026). International Menopause Society recommendations and key messages on women’s midlife health and menopause. International Menopause Society
Jain, V., Chodankar, R. R., Maybin, J. A., & Critchley, H. O. D. (2022). Uterine Bleeding: How Understanding Endometrial Physiology Underpins Menstrual Health. Nature Reviews Endocrinology, 18(5), 290–308. https://doi.org/10.1038/s41574-021-00629-4
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Dampak kesehatan menopause. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Perubahan hormonal pada masa menopause. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Marshall, I. G., & Norman, R. J. (2022). Menstruation: Where physiology, history and inequality meet. Fertility and Sterility, 118(2), 260–261. https://doi.org/10.1016/j.fertnstert.2022.06.014
Olson, M. M., Alhelou, N., Kavattur, P. S., Rountree, L., & Winkler, I. T. (2022). The persistent power of stigma: A critical review of policy initiatives to break the menstrual silence and advance menstrual literacy. PLOS Global Public Health, 2(7), e0000070. https://doi.org/10.1371/journal.pgph.0000070
World Health Organization. (2024). Menopause. World Health Organization
Young, C., & Winduwati, S. (2022). Kampanye Dalam Mematahkan Stigma Seputar Menstruasi Di Kalangan Masyarakat, 6(2), 390–397. https://doi.org/10.24912/kn.v6i2.15728