Rumah sakit merupakan organisasi yang kompleks karena melibatkan berbagai profesi, teknologi, serta sistem pelayanan yang harus berjalan secara terpadu untuk menjamin mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Di tengah perubahan pelayanan kesehatan yang semakin dinamis, keberhasilan rumah sakit tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau kompetensi tenaga kesehatan, tetapi juga oleh budaya organisasi yang membentuk cara berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, mengambil keputusan, dan beradaptasi terhadap perubahan.
Sebagai profesi dengan jumlah terbesar di rumah sakit, perawat memiliki peran strategis dalam membentuk budaya organisasi. Nilai-nilai yang berkembang di lingkungan keperawatan memengaruhi kolaborasi, kepemimpinan, profesionalisme, mutu pelayanan, dan keselamatan pasien. Oleh karena itu, memahami budaya organisasi perawat menjadi langkah penting dalam membangun rumah sakit yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada pelayanan berkualitas.
Monograf ini membahas budaya organisasi dalam pelayanan keperawatan menggunakan pendekatan Competing Values Framework (CVF) dan Organizational Culture Assessment Instrument (OCAI). Buku ini berfokus pada analisis kesenjangan antara current culture dan preferred culture sebagai dasar penyusunan strategi transformasi budaya organisasi yang terarah dan berbasis bukti.
Pembahasan mencakup konsep budaya organisasi, karakteristik empat tipe budaya, diagnosis menggunakan OCAI, analisis kesenjangan budaya, hingga strategi perubahan yang aplikatif bagi rumah sakit. Selain itu, buku ini menguraikan hubungan budaya organisasi dengan kepemimpinan keperawatan, mutu pelayanan, keselamatan pasien, pengembangan sumber daya manusia, dan organisasi pembelajar.
Keunggulan monograf ini terletak pada integrasi teori, hasil penelitian, dan rekomendasi praktis yang dapat dimanfaatkan oleh pimpinan rumah sakit, manajer keperawatan, dosen, mahasiswa, peneliti, maupun praktisi kesehatan. Pembaca tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai budaya organisasi, tetapi juga panduan menyusun roadmap transformasi budaya yang berkelanjutan.
Melalui buku ini, penulis berharap pembaca memahami bahwa perubahan organisasi tidak cukup dilakukan melalui penyempurnaan struktur, prosedur, atau teknologi, tetapi harus dimulai dari perubahan budaya. Budaya organisasi yang kuat akan melahirkan tenaga kesehatan yang profesional, kolaboratif, adaptif, dan berorientasi pada keselamatan pasien sehingga rumah sakit mampu memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, humanis, dan berdaya saing.