Buku referensi Keperawatan Bencana dan Kedaruratan Komunitas: Sistem, Triase, dan Ketahanan” menghadirkan panduan komprehensif tentang bagaimana sistem keperawatan berperan dalam seluruh siklus manajemen bencana di tingkat komunitas. Dimulai dari kerangka manajemen bencana yang meliputi mitigasi, kesiapsiagaan, respons, hingga pemulihan, buku ini menguraikan konsep dan kompetensi inti keperawatan bencana, serta bagaimana perawat berkontribusi dalam setiap fase tersebut (Bab 1). Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan organisasi komando insiden dan koordinasi lintas sektor, termasuk struktur komando, peran pemangku kepentingan, mekanisme koordinasi, hingga sistem informasi dan pengambilan keputusan di tengah situasi krisis (Bab 2). Pada Bab 3 dan 4, fokus diarahkan pada praktik lapangan yang sangat krusial, yakni triase bencana dengan model sederhana, cepat, serta pendekatan SALT untuk korban massal, serta manajemen logistik, rantai pasok, dan keselamatan tim keperawatan di zona terdampak.
Selanjutnya, buku ini memperluas perspektif keperawatan bencana pada aspek kesehatan masyarakat pascabencana dan kelompok rentan di komunitas. Bab 5 mengulas secara sistematis isu air, sanitasi, kebersihan, dan penyakit infeksi pascabencana, termasuk faktor risiko dan peran pemerintah serta organisasi kemanusiaan. Dimensi kesehatan jiwa dan dukungan psikososial tersaji dalam Bab 6, membahas prinsip dukungan kesehatan jiwa, reaksi psikologis korban, model intervensi, serta perlindungan kelompok rentan seperti anak, penyandang disabilitas, lansia, dan ibu hamil/menyusui. Bab 7 kemudian memberikan panduan layanan yang lebih spesifik bagi ibu hamil, bayi, anak, lansia, dan penyandang disabilitas, disertai pembahasan tentang integritas sistem layanan dan ketahanan komunitas agar respons bencana tetap inklusif dan berkeadilan.
Pada bagian akhir, buku ini menegaskan pentingnya dimensi sistem dan pembelajaran berkelanjutan dalam keperawatan bencana komunitas. Bab 8 membahas komunikasi risiko dan literasi kesehatan masyarakat, termasuk strategi untuk berbagai kelompok sasaran, pemanfaatan media, pendekatan berbasis budaya, serta etika dan riset dalam komunikasi risiko. Bab 9 menyoroti latihan simulasi, evaluasi pascakejadian (After Action Review), dan pembelajaran sistem dengan dukungan teknologi serta pengembangan kapasitas SDM dan organisasi. Bab 10 menutup keseluruhan bahasan dengan menyajikan kerangka indikator kesiapsiagaan dan ketahanan komunitas, metode pengukuran, penyusunan indeks, serta pemanfaatannya untuk perencanaan dan evaluasi program. Dengan struktur tersebut, buku ini menjadi rujukan penting bagi perawat, mahasiswa, pengelola program kebencanaan, dan pemangku kebijakan yang ingin memperkuat sistem, triase, dan ketahanan komunitas dalam menghadapi bencana.